Daily BUZZ – Indonesia tidak lagi hanya dipandang sebagai target pasar konsumen layanan kesehatan luar negeri. Kini, tanah air tengah bersiap mengambil peran strategis sebagai destinasi utama wisata medis (medical tourism), estetika, dan wellness (kebugaran) terintegrasi di kawasan Asia-Pasifik.
Potensi ekonomi dari sektor wisata medis ini sangat fantastis. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menargetkan sektor ini mampu memberikan kontribusi hingga US$84 miliar atau sekitar Rp1.362 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Selain memicu nilai ekonomi berlipat, sektor ini diyakini mampu mendatangkan devisa, menarik investasi global, membuka lapangan kerja baru, serta meningkatkan standar kualitas layanan kesehatan nasional secara merata.
Langkah konkret Indonesia dalam memperkuat ekosistem ini ditandai dengan penetapan 44 rumah sakit rujukan wisata medis yang memiliki pusat layanan unggulan di bidang kardiologi, onkologi, ortopedi, bedah estetika, hingga kedokteran regeneratif. Selain itu, pemerintah telah memfasilitasi percepatan investasi melalui pembentukan 3 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan, yaitu di Sanur (Bali), Banten, dan Batam dengan kemudahan perizinan serta insentif perpajakan yang menarik.
Mengawinkan Tradisi Kebugaran, Layanan Medis, dan Hospitality Internasional
Langkah transformasi Indonesia ini menjadi sorotan utama dalam gelaran perdananya GlobalHealth Asia-Pacific (GHAPAC) Aesthetics, Wellness & Longevity Conference & Awards 2026 yang berlangsung di Grand Hyatt Jakarta pada 24–25 September 2026. Acara regional ini menghadirkan lebih dari 200 pengambil keputusan dan praktisi medis dari berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, hingga Korea Selatan.
Dalam forum tersebut, terungkap bahwa Indonesia memiliki modal yang sangat lengkap untuk unggul dibanding negara tetangga. Selain infrastruktur medis yang terus dibenahi, Indonesia memiliki reputasi hospitality kelas dunia, talenta medis berkualitas, serta warisan tradisi wellness (seperti spa lokal dan herbal) yang sudah tersohor secara global.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pasar sekaligus pemain regional yang penting,” ujar Narender Panjwani, Chairman GlobalHealth Asia-Pacific. “Seiring estetika, wellness, dan longevity semakin terhubung dengan sektor kesehatan, pertumbuhannya perlu didukung oleh kredibilitas ilmiah, standar profesional, serta inovasi yang bertanggung jawab.”
Sinergi Antar-Kementerian: Paket Wisata Kesehatan Terintegrasi
Guna mewujudkan ekosistem yang solid, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata berjalan seiringan dalam menyusun regulasi serta strategi pemasaran. Dari sisi regulasi, Kemenkes memastikan pertumbuhan kedokteran estetika dan layanan preventif tetap mengedepankan keselamatan pasien, kompetensi tenaga medis, dan praktik berbasis bukti ilmiah (evidence-based).
Di sisi lain, Kementerian Pariwisata berfokus menghubungkan jaringan rumah sakit, klinik, penyedia wellness, hingga pelaku industri perhotelan dan destinasi wisata.
Hanifah Makarim, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kementerian Pariwisata, menjelaskan bahwa pemerintah tengah mengembangkan paket pariwisata kesehatan terintegrasi.
“Pengembangan paket pariwisata kesehatan terintegrasi diharapkan dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh bagi para pengunjung dengan memadukan layanan medis berkualitas dengan aktivitas kebugaran, pemulihan, dan rekreasi,” ungkap Hanifah.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan keterbukaan terhadap kemitraan internasional, Indonesia optimis dapat menahan laju pasien domestik yang berobat ke luar negeri, sekaligus menarik wisatawan mancanegara untuk menikmati layanan kebugaran dan medis terbaik di Nusantara.

